JANGAN ADA PERMAIANAN UANG DI PEMILIHAN REKTOR UNPAR. Oleh : Sigit Wido ( mantan presiden BEM Unpar )

Posted on 3 Maret 2009. Filed under: Opini Bebas |

sgtSebuah hal yang wajar jika banyak masyarakat Kalimantan tengah saat ini berharap besar akan kemajuan universitas palangka raya. Tak bisa di pungkiri bahwa unpar adalah salah satu asset daerah sekaligus symbol bagi dunia pendidikan di provinsi ini. Sebagai perguruan tinggi negeri satu satunya, sudah ribuah sarjana di cetak oleh unpar. Bagi sebagaian besar masyarakat, nama besar unpar sudah cukup dikenal dan dipercaya, terbukti dalam setiap penerimaan mahasiswa baru, ribuan pelamar selalu bersaing untuk bisa masuk menjadi mahasiswa unpar. Namun bagi masyarakat golongan menengah keatas, unpar tampaknya masih sebatas di kenal dan belum dipercaya, sebab banyak anak anak dari golongan keluarga mampu justru memilih kuliah di jawa dari pada di Unpar. Itulah salah satu yang menjadi tantangan bagi unpar untuk secepatnya berbenah. Momentum pemilihan rektor yang akan di gelar akhir januari nanti tampaknya harus menjadi titik balik bagi kemajuan unpar. Saatnya unpar memilih seorang pemimpin yang benar benar berkualitas, seorang pemimpin yang mempunyai visi yang jelas dan terukur agar bisa membawa unpar kearah yang lebih baik dan seorang pemimpin yang mampu mensejajarkan unpar dengan perguruan tinggi elit yang ada di Indonesia. Dari segi SDM, unpar saat ini telah mempunyai puluhan professor dari berbagai bidang, puluhan doctor dan puluhan master yang ahli dalam bidangnya masing masing. Sehingga tidak ada alasan lagi yang membuat unpar tidak berkualitas. Selain pintar, Menjadi seorang rektor tidaklah mudah, diperlukan pemikiran yang cerdas dalam membaca peluang, diperlukan berbagai terobosan yang jitu dan loby yang kuat untuk memajukan unpar. Harapan akan terpilih rector yang berkualitas tersebut saat ini tertumpu dan tergantung dari kejernihan hati para anggota senat universitas yang berjumlah 33 orang. Pertanyaannya sekarang, mampukan ke tiga puluh tiga anggota senat tersebut mewakili keinginan seluiruh masyarakat kalteng dan masyarakat kampus unpar untuk memilih rector yang di harapkan? bukan rahasia lagi bahwa 33 suara dari 33 anggota senat saat ini telah menjadi incaran bagi calon rector yang rakus akan jabatan, semoga saja para anggota senat nantinya juga tidak tergoda dan silau dengan uang dan tetap memegang teguh amanat yang mereka emban demi kemajuan unpar kedepan. Sangat disayangkan sebenarnya, di alam demokarasi yang serba transparan saat ini system pemilihan rector masih menganut cara kuno, seharusnya rector dapat dipilih secara langsung dan tidak melalui perwakilan angota senat. Tidakkah malu dengan kepala desa yang sudah sejak lama dipilih secara langsung ? meskipun rector bukan sebuah jabatan public tapi setidaknya kampus adalah barometer dari demokrasi yang digulirkan pasca reformasi lalu, yang seyogyanya juga mengedapankan objektifitas dan transparansi dalam setiap proses pengambilan sebuah kebijakan dan suksesi kepemimpinan. Namun apalah daya, di negeri ini tidak ada aturan yang mengatur soal mekanisme pemilihan rector secara langsung, tampaknya aturan yang ada saat ini telah dianggap ideal dan sepertinya sengaja dipertahankan meski mengingkari system demokrasi. Karena system pemilihan rector secara langsung saat ini tidak bisa diterapkan, yang menjadi focus untuk diperhatian adalah proses pencalonan sampai proses pemungutan suara, artinya seluruh proses tersebut harus dilakukan secara terbuka kepada public khusunya masyarakat kampus unpar, penyampaian visi misi calon harus dilakukan secara terbuka selain itu panitia juga perlu menggelar debat atau bedah para calon rector secara terbuka, ini penting untuk mengetahui kualitas calon agar public dapat menilai secara objektif. Yang lebih penting lagi adalah proses pemungutan suara juga harus terbuka dan dapat disaksikan oleh seluruh warga kampus, baik mahasiswa maupun dosen. Sebab selama ini proses pemungutan suara terkesan seperti tertutup dan seolah olah tidak boleh orang lain menyaksikan selain 33 orang anggota senat yang mempunyai hak suara. Kedepan system seperti ini harus di rubah, biarkan warga kampus menyaksikan secara langsung prosesi pemungutan suara toh mereka hanya punya hak untuk mendengarkan dan tidak mempunyai hak bicara dan suara, Jadi kenapa mesti harus di takutkan. Selain warga kampus panitia juga harus memberikan kesempatan kepada seluruh wartawan untuk mengekspos proses pemilihan, jangan ada pembatasan terhadap para wartawan, ini penting sebagai control agar seluruh masyarakat dapat mengetahui tentang perkembangan proses pemilihan rector unpar meski hanya melalui media massa. Melalui BEM, mahasiswa juga harus dapat lebih berperan dalam hal pengawasan, jangan sampai ada indikasi jual beli suara dalam pemungutan suara nanti. Tulisan ini hanyalah sebuah harapan dan keinginan agar kelak unpar dapat menjadi universitas kebanggaan dan membanggakan bagi seluruh masyarakat di bumi tambun bungai. Semoga….!!!

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: