nah kalo yang ini “Antara Aku, Kau dan Pak Dosen”

Posted on 14 Juli 2009. Filed under: Opini Bebas | Tag:, , , |

Seperti biasa sepulang kantor saya langsung merebahkan diri untuk sekedar refresh sambil nonton tv, buka-buka facebook, update status, dan reply coment. Selepas maghrib perut menagih janji kali ini saya ingin sedikit memanjakan lidah dengan seafood, setelah mandi ala kadarnya saya langsung hunting seafood di bilangan Jalan Yos sudarso dan pilihan jatuh ke ‘seafood pak hadi’ tidak jauh dari tempat duduk saya ada dua orang laki-laki umurnya sekitar 20an tahun, belakangan saya tau mereka adalah mahasiswa, salah satu dari mereka berkata pada temannya “kalau ada penerimaan PNS nanti kamu ikut nggak” teman yg duduk di depannya menjawab “kalau jadi PNS peluangnya kecil, apalagi kalau gak punya koneksi dan gak punya uang” sambil melahap makanan, laki-laki yg memulai topik pembicaraan tadi bersuara lagi “bapak ku sudah ngomong sih sama Om ku yang kerja di kantor XXX(sensored) katanya dia siap bantu” lagi-lagi teman yg didepannya menjawab “kamu sih enak punya keluarga di XXX, nah aku?” sambil pura-pura ngotak-ngatik hp saya melirik ke arah mereka, saya penasaran ingin tau apa tanggapan mahasiswa yg katanya punya Oom di kantor XXX tadi, “tenang saja, kalau kamu serius nanti ku bilang sama om ku, siapa tau dia bisa bantu kamu juga” Saya jadi senyum-senyum sendiri mendengar diskusi perencanaan masa depan dua orang mahasiswa ini, entah siapa yg salah yg jelas jaman saya masih kuliah dulu setiap kali berkumpul dengan teman-teman tidak pernah sekalipun membicarakan masalah pekerjaan yg akan dijalani pasca kuliah, apalagi sampai ‘mengatur strategi’ masuknya, biasanya pembicaraan kami tidak pernah jauh dari trend ‘berfikir kekiri-kirian’, strategi demonstrasi untuk merangsek masuk ke kantor DPRD tanpa kena pentungan polisi, atau pembicaraan yg agak ringan ya seputar tempat kost yg murah. Mendengarkan diskusi dua mahnasiswa tadi Saya jadi bertanya-tanya dalam hati. . . gejala apa sebenarnya ini ? Jangan-jangan dua orang Mahasiswa yg didekat saya ini sedang mewakili ribuan mahasiswa lainnya, jika kekhawatiran saya ini benar berarti memang ada yg salah dalam sistem pendidikan di kampus.

Sebagai mantan mahasiswa yg sama sekali tidak memiliki prestasi akademis menonjol saya sangat merasakan adanya kejanggalan dalam dunia kampus, dulu saya sering ditegur dosen gara-gara pakai kaos oblong padahal kalau difikir-fikir apa hubungannya kaos oblong dengan mata kuliah yg saya pelajari, toh pada akhirnya justru orang-orang dengan pakaian rapi lah yg sering melakukan kebiadaban dan merugikan banyak orang, buktinya muncul istilah ‘white color crime’ saya tidak pernah dengar ada ‘white oblong crime’

Ada semacam penindasan terstruktur dikampus yang melahirkan mental-mental kerdil, mental-mental yang selalu berfikir instan, pragmatis dan cenderung mencari yg aman-aman saja yang penting nyaman (apapun caranya) contoh penindasannya ya..seperti.. Mahasiswa yg berani melawan dosen bakal gak lulus mata kuliahnya, yg gak beli makalah bakal gak dapat nilai… Akhirnya mahasiswa tidak ubahnya seperti inlander dijaman kolonial, yg ‘berUANG’ tunduk pada kekuasaan, yg miskin tapi penakut jadi penjilat dan khusus untuk yang “miskin tapi berani” kemungkinannya ada dua : 1). jadi pemberontak, 2). jadi MAPALA (MAhasiswa PAling LAma). Tapi tenang aja lama-lama dekan juga bosan dan akhirnya mahasiswa yg “miskin tapi berani” ini dipermudah supaya lulus dan gak balik-balik lagi ke kampus.

Selain adanya indikasi “penindasan” dalam proses belajar mengajar dikampus, saya juga menilai adanya pola yang tidak seimbang dalam mengfungsikan kinerja otak kanan dan otak kiri (proses belajar di kampus cenderung mengasah otak kiri) padahal dalam dunia kerja dan kehidupan sosial, fungsi otak kanan memiliki peran penting dalam menentukan pilihan dan melihat peluang. Jaman saya kuliah dulu ada satu dosen yg mewajibkan jawaban setiap soal yg menyangkut arti, terminologi dan devinisi harus sesuai dengan yang ada di makalah/catatan. Ini sangat konyol, apalagi untuk saya yg tidak suka menghafal, Menurut saya mestinya mahasiswa diberikan kebebasan untuk berekspresi dengan ‘bahasanya’ dalam menjawab soal, tentu dengan tidak mengurangi makna/substansi jawaban yg benar.

Loh kok jadi ngelantur ya.. Saya kan tadi cuma mau cerita tentang seafood pak hadi yang mak nyos..🙂

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: