Cintaku tertinggal di Malaysia eh..di Tasik Malaya

Posted on 11 November 2009. Filed under: Hiburan | Tag:, , , , , |

perjalanan kali ini ku pilih memakai celana kolor yang agak panjang dikit (hampir menyentuh lutut) walaupun awalnya aku berniat pake celana kolor kesayangan yg lumayan jauh menggantung diatas lutut, pilihan penerbangan pun kali ini agak sedikit berkelas. tepat pukul 11.30 aku berangkat ke jkt dan 1,5jam berikutnya pesawat boeing 737 sdh landing dg sempurna di bandara soekarno-hatta. Tas gendong dan kaos oblong sedikit memberi kesan santai dan familiar di lingkungan bandara yg penuh dg hiruk pikuk manusia. pelan tp pasti aku melangkah keluar bandara menuju antrian taxi dan bus bandara yg datang silih berganti, seperti dugaanku beberapa sopir taxi mulai mencecarku dg petanyaan dan ajakan “santai aja bos gw mo nyari makan dulu” begitu jawabku seolah sdh benar2 familiar dg suasana terminal 1b bandara soekarno-hatta, yg unik ada seorang bapak2 yg datang menghampiriku dan menunjukan sebuah benda dg tujuan menjualnya padaku dan aku yakin itu ‘tangkur buaya’ mungkin si bapak itu fikir aku hidung belang yg suka jajan kali ya hahaha… Tangkur buaya ku lewatkan dg sebuah isyarat penolakan menggunakan telapak tangan, selanjutnya berhubung memang perut sdh menagih janji makan siang akhirnya langkahku terhenti di sebuah resto fast food aku lupa namanya tp posisinya tepat di samping pintu keluar terminal 1b, disitu ku pesan sekaleng cola dan sepiring siomay yg disajikan cukup modern dan sangat sedikit jauh lbh sdikit dari ukuran porsi makanku yg sebenarnya. harga yg dibayar utk itu semua senilai 35rb, sangat mahal utk ukuran siomay yg biasa ku beli di palangkaraya seharga 5rb. Tapi oke lah emang sdh hukumnya setiap makanan tradisional yg masuk resto pasti harganya jd berlipat-lipat.

Setelah tawar menawar dg sopir taxi ‘jakarta metro’ akhirnya kami sepakat utk mematikan argo dan menuju lebak bulus dg harga ‘borongan’ dan pukul 15.10 WIB aku baru bisa menjejakan kaki di terminal lebak bulus, setelah membayar peron di pintu masuk aku langsung menajamkan pandangan pada tulisan di loket, yg ku cari saat itu adalah bus jurusan banjar patroman akhirnya dg bantuan seorang pedagang asongan aku diantar ke loket bus Gapuraning Rahayu (GR) namun malang ternyata bus yg kumaksud baru berangkat sekitar jam 7 malam, seketika itu juga aku teringat kesepakatan awal dg perempuanku utk bertemu di tasik malaya, serta merta ku tanyakan pada penjaga loket “kalau ke tasik malaya ada gak bis yg langsung brangkat?” tanyaku dg penuh harap, “itu primajasa, naik aja langsung”jawab si penjaga loket sambil menunjuk bus yg sdh di isi penumpang. Singkat cerita aku langsung ambil posisi di dalam bus primajasa jurusan jkt – tasik malaya dan perjalanan panjangpun dimulai…

30 menit sdh berlalu tp bus blm juga bergerak, tukang asongan sdh hilir mudik berganti-ganti naik ke bus yg ku tumpangi, dari mulai penjual kacang, rokok, gorengan, tahu sumedang, gehu, anggur (penjualnya sampai bersumpah bahwa anggurnya manis) ada juga ibu2 yg nawarin jasa penukaran uang pecahan 5000an dan 2000an, dan terakhir seorang bapak yg menjual alat pijit elektrik.

Rasa senang mulai menyelinap dibenakku saat bus bergerak keluar meninggalkan terminal, untuk meyakinkan bahwa bus yg ku tampangi benar2 menuju tasik malaya akupun bertanya pada penumpang lain yg duduk di sampingku ah…tenang rasanya setelah yakin bus yg ku tumpangi memang menuju tasik malaya. Sepanjang perjalanan mataku tertuju pada papan2 dan spanduk bertulisan, kufikir dg membaca beberapa papan petunjuk lalu lintas dan spanduk2 di warung aku bisa mendapatkan informasi posisiku saat itu hingga akhirnya mataku sampai pada tulisan ‘cileunyi’ tidak lama kemudian ‘bandung’ bus terus melaju hingga ku temukan papan bertuliskan ‘ciawi’ menurut informasi ciawi ini sdh dekat ke tasik, dan yg paling ku tunggu2 adalah tulisan ‘rajapolah’ “wah udah semakin deket nih… begitu fikirku”, sekitar pukul 8 aku menemukan tulisan besar “selamat datang di tasik malaya” hmmm… Ada sedikit rasa gugup yg datang tiba2 tapi rasa gugupku terlupakan oleh rasa sakit di dadaku karena batuk yg menyiksa sejak malam sebelum aku berangkat dan sepanjang perjalanan jkt-tasik. Bus primajasa menurunkan ku di depan pintu masuk terminal tasik malaya, hpku berdering suara perempuan yg sedari tadi terus menerus menghubungiku kembali menanyakan posisiku “aa dimana..???” begitu tanyanya dg lembut suara yg menyejukan. Sesampainya di dalam terminal ku lihat seorang laki2 berjalan menghampiriku dan di ikuti seorang perempuan yg aku yakin adalah perempuanku, kulihat senyumnya mengembang dari kejauhan dialah tujuan dari perjalanan panjangku ini, perempuan yg tdk pernah kutemui sebelumnya. Laki2 yg bersamanya menjabat tanganku dg hangat dan akupun yakin dia adalah teman baik dari perempuan disampingku, perempuan itu mencubit pipiku seraya berkata “..oh ini a aceng teh..” ini perlakuan paling menyenangkan yg ku temukan sepanjang perjalanan, diam2 aku merasakan kekuatan yg mengusir letihku tapi bagaimanapun perjalanan ku belum usai, Perjalanan masih hrs dilanjutkan menuju banjar patroman, kami memutuskan utk menggunakan angkutan umum, perjalanan kali ini terasa sangat singkat dan jauh lbh tenang meskipun sebenarnya sangat berisik oleh deru mesin yg berpadu dg suara pengamen dan seorang laki2 setengah baya yg melantunkan nasehat dlm bahasa sunda (intonasi dalam monolognya sangat mirip dalang wayang golek), namun semua itu sama sekali tidak mengganggu kami hingga akhirnya entah siapa yg memulai tanpa sadar jari jemari dan telapak tangan kami telah menyatu, entah apa yg difikirkan oleh para penumpang yg melihat kedekatan kami, yg jelas saat itu kami tdk merasakan kehadiran para penumpang lain. Perjalanan dua jam itu mengantarkanku sampai di terminal manganti dan ternyata perjalanan msh belum berakhir namun dua orang utusan orang tua perempuanku telah menjemput utk membawa kami kerumahnya, kali ini perjalanan berlangsung sekitar 1 jam hingga pada akhirnya saat jarum jam menunjukan angka 11 malam aku baru bisa duduk manis di rumahnya dan menikmati pepes ikan gurame yg dipadu dg sambal terasi dan pete goreng, malam itu rasa letihku terobati oleh hidangan makan malam dan pijatan tangan lembut perempuanku yg berlangsung hingga pukul 2 dini hari.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: