Jalan panjang (base on true strory) part II

Posted on 6 Desember 2009. Filed under: Review | Tag:, , , , , , |

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya dalam ‘jalan panjang part I’ yang menceritakan tentang awal mula saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman, atau jika anda belum sempat membacanya silahkan klik disini untuk membaca terlebih dahulu agar tidak terjadi missing link story.

Setelah tau cinta saya yg telah terpendam selama 3 tahun ternyata bertepuk sebelah tangan akhirnya tekad saya untuk merantau benar2 bulat, yang ada difikiran saya adalah sekolah, menuntut ilmu dan meningkatkan kwalitas diri agar saya benar2 menjadi bagian dari zaman yang katanya modern, saya tidak pernah berfikir untuk jadi ini dan itu, saya tidak pernah sedikitpun membayangkan untuk memiliki pekerjaan atau profesi tertentu, yang ada difikiran saya adalah melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Karena keinginan orang tua saya pada waktu itu adalah melanjutkan sekolah di sekolah perawat kesehatan maka tanpa fikir panjang saya pun mengiyakan, pada bulan agustus 1998 saya berangkat ke palangkaraya dan ini adalah langkah yang sangat berat bagi saya karena harus meninggalkan orang tua dan satu adik perempuan yg sangat saya sayangi. Hampir sepanjang malam sebelum berangkat, saya menghabiskan waktu untuk bercengkrama dengan adik dan ibu seolah saya tidak akan pernah kembali pulang. Baju-baju, seragam sekolah dan berkas2 seperti ijazah dan raport sekolah telah di pack dalam kardus bekas mie goreng, tas ransel saya penuh berisi makanan ringan dan air mineral untuk persediaan selama di perjalanan, karena jarak tempuh dari kampung saya menuju palangkaraya memakan waktu hampir 12 jam melalui jalan air selama 6 jam menuju ibukota kabupaten kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat selama kurang lebih 5 jam menggunakan angkutan umum lintas kabupaten jurusan palangkaraya.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan saya dan abah akhirnya sampai di kota palangkaraya, takjub adalah hal pertama yang menyerang fikiran saya, saya hampir tidak percaya bisa menjejakan kaki di ibukota kalimantan tengah yang selama ini cuma bisa saya dengar beritanya melalui chanel RRI Palangkaraya dari radio dual band merek panasonic di kamar tidur yang selalu setia menemani saya sebelum terlelap. Tujuan utama abah adalah menemui teman lamanya yaitu pak Anwar, dengan berbekal buku catatan yang memuat alamat teman2 abah, kami pun akhirnya memutuskan menggunakan becak dari pasar menuju rumah pak anwar, sepanjang perjalanan saya terus menikmati setiap jengkal jalanan kota palangkaraya, dalam hati saya bergumam kelak saya harus menjadi bagian dari kesibukan kota ini. Harus…!

Setelah abah merasa saya bisa beradaptasi dengan keluarga pak anwar dan setelah semua urusan pendaftaran sekolah beres, abah memutuskan untuk kembali ke kampung. Saya yang sebenarnya belum siap berada di tengah-tengah keluarga yang baru saya kenal kurang dari 1 bulan itu mau tidak mau harus belajar tegar dan siap memulai lembar baru kehidupan. setelah abah pulang Kejenuhan mulai menggerayangi fikiran dan perasaan saya karena hampir setiap hari pekerjaan saya hanya berdiam diri di rumah namun keinginan saya untuk sekolah mengalahkan segalanya. sejak saat itulah saya belajar berbahagia dengan keyakinan atas harapan dan mimpi-mimpi, harapan dan mimpi bisa sekolah dan berada di ruang kelas bagi saya adalah hiburan yang terus memompa semangat walaupun sebenarnya hampir setiap malam saya terbangun dan menangis mengingat ibu dan adik perempuan saya di kampung, kesibukan keluarga ini benar2 telah mengajari saya arti ‘sepi’ saya benar2 kesepian di tengah kota, saya merasa ada yang hilang dari kehidupan saya dan itu bernama ‘kasih sayang’ saat itu saya baru bisa merasakan betapa pentingnya kasih sayang seorang ibu dan perhatian seorang abah namun saya sadar saya sudah melangkahkan kaki dan anak laki-laki tidak boleh surut langkah hanya karena kurangnya kasih sayang, suatu waktu di hari minggu saat pak anwar dan istrinya berada dirumah saya memberanikan diri minta izin memperbaiki sepeda pancal (sepeda ontel) yang sudah lama tergeletak digudang, saya minta ijin untuk memperbaiki dan memakainya agar saya bisa berkeliling kota dengan sepeda itu, saya ingin melihat-lihat sekolah dan mencari teman, pak anwar mengizinkannya bahkan ia berniat membelikan sepeda baru karena selama ini saya dinilai telah membantu menjaga dan merawat rumahnya dengan baik, namun saya menolaknya karena bagi saya dengan di ijinkan tinggal dirumahnya saja sudah merupakan bantuan besar dari seorang pak anwar yang saya sendiri tidak tau bagaimana cara membalas kebaikannya itu.
Sejak ada sepeda saya mulai memiliki aktifitas diluar rumah, hampir setiap pagi dan sore saya berkeliling komplek dan bertemu teman2 baru, sesekali saya mengayuh sepeda ke sekolah yg saya lamar sekedar untuk membaca-baca papan pengumuman dan membayangkan jadi siswa di sekolah itu, jaraknya dari rumah yang saya tinggali sekitar 6 sampai 7 km.

SAKIT KERAS
jika di kampung saya selalu makan pagi sebelum jam 8 maka di palangkaraya ini saya hampir setiap hari makan pagi diatas jam 10 dan baru makan setelah sore hari atau bahkan malam hari, bukan karena keluarga yang saya ikuti tidak memperhatikan pola makan saya tapi memang kesibukan telah merubah pola makan mereka yang jauh berbeda dengan pola makan saya di kampung, kondisi ini ternyata berakibat fatal bagi saya karena akhirnya saya terserang penyakit lambung (mag) kronis dan thypus, saya pun harus tergolek lemah selama dua minggu di rumah sakit. Namun ada hikmah dibalik tergoleknya saya di rumah sakit karena kejadian itu mengantarkan saya pada perkenalan dengan perawat-perawat cantik yang ternyata masih sekolah di sekolah yang sedang saya lamar, sekolah perawat kesehatan. Dengan sabar mereka bergantian mengunjungi saya merawat dan memberikan perhatian lebih, karena mereka tau saya tidak punya sanak family di kota ini sedangkan keluarga yg saya ikuti sangat sibuk sehingga Saya jarang sekali dijenguk layaknya pasien lain. Dari sekian banyak perawat yang sering mengunjungi saya ada satu orang yang mencuri perhatian saya, tutur katanya santun, penampilannya tampak anggun dengan jilbab, tatap matanya memancarkan kasih sayang yang tulus, ia merawat pasien bukan hanya karena tuntutan tapi karena kasih sayang dan rasa kemanusiaan namun sebelum saya mengenalnya lebih jauh saya sudah keburu sembuh dan di ijinkan untuk pulang kerumah, diam-diam saya berharap kelak bisa bertemu lagi dengan perawat itu.

Selepas sakit itu kerinduan saya pada kampung benar2 tak tertahankan saya rindu abah, ibu dan adik perempuan, hampir setiap sore saya duduk di ujung gang menatap kosong ke jalan raya berharap ada becak yang datang membawa abah, selepas maghrib saya selalu berdoa agar tuhan menyampaikan kerinduan saya pada abah dan membawanya datang ke palangkaraya, seandainya saat itu di kampung saya ada telepon pasti saya sudah menelepon, tapi apalah daya modernisasi yang sering di gembar-gemborkan oleh orang kota sama sekali tidak menyentuh kampung saya. Tidak banyak yg bisa saya lakukan selain memohon bantuan pada tuhan agar abah segera datang mengobati kerinduan dan mengantarkan saya mengikuti test penerimaan siswa baru di Sekolah Perawat Kesehatan (bersambung)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Jalan panjang (base on true strory) part II”

RSS Feed for Blog Pejuang Comments RSS Feed

tentang cinta..🙂
cinta memang banyak cerita..🙂

________________
Trasmianto, said:

hehe… Trims atas kunjungannya sob…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: