Jalan Panjang (base on true story) Part I

Posted on 6 Desember 2009. Filed under: Review |

Palangkaraya… Tak terasa sudah 12 tahun saya merantau, pahit ketir dan hitam putihnya kehidupan menjadi tinta yang mewarnai hari-hari saya, ada haru yang menyelimuti perasaan jika ingat masa-masa berat dan sulit saat berusaha bertahan untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang selalu mengganggu fikiran saya.

12 tahun yang lalu saya berangkat meninggalkan kampung halaman membawa sebuah harapan kecil untuk menjadi seorang perawat kesehatan, jujur sebenarnya untuk menjadi perawat sama sekali tidak pernah terlintas di fikiran saya, bahkan saya seringkali bingung jika guru dan teman2 saya bertanya apa cita-cita saya karena saat kecil dulu saya hanya ingin keluar dari kampung, ya cita-cita saya adalah merantau ke kota dan satu-satunya cara untuk dapat melangkahkan kaki ke kota adalah dengan menuruti orang tua yang menginginkan saya menjadi perawat kesehatan karena saat itu berhembus isu setiap alumni Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) secara otomotis di angkat menjadi pegawai negeri sipil, orang tua saya menaruh harapan besar agar saya menjadi pegawai walaupun jauh didalam lubuk hati saya yg paling dalam sebenarnya saya berteriak menolak harapan itu tapi tidak ada cara lain bagi saya untuk menunjukan bhakti saya pada orang tua selain dengan menuruti keinginannya.

motivasi terbesar saya untuk dapat menjejakan kaki di kota sebenarnya sangat sederhana Yaitu ‘modernisasi’ saya ingin menjadi bagian dan saksi sejarah perpindahan jaman karena guru saya dulu sering bilang bahwa ‘kita sekarang sudah memasuki jaman modern, era globalisasi dan sebagainya dan sebagainya’ namun ada yang mengganjal di fikiran dan hati saya saat itu “jika benar kita berada di jaman modern mengapa saya tidak pernah melihat mobil dan komputer mengapa saya tidak tau cara memakai telepon, mengapa juga listrik tidak masuk ke kampung saya dan banyak ‘mengapa-mengapa’ yang tidak mampu di jawab oleh guru-guru saya waktu itu” selain alasan itu semua ada lagi satu alasan yang cukup penting dan menjadi pemantik yang membuat keinginan saya semakin menggelora yaitu neng Tia, dia satu-satunya perempuan tercantik seantero kampung yang kebetulan teman sekolah saya di SMP, tentang kabar kecantikannya sebenarnya sudah saya dengar sejak saya masih di bangku kelas VI SD tapi kami tidak satu sekolah, di bangku SMP lah saya melihatnya..beuuh.. Dia memang cantik, matanya bulat dengan alis mata yang rapi, hidungnya mancung, bibirnya yang tipis membuat senyumnya semakin manis, rambutnya hitam legam panjang terurai menghiasi wajahnya yang oval dan kulitnya yang putih bersih sama sekali tidak mencerminkan gadis kampung pada umumnya, ia membuat saya bersemangat mengayuh sepeda menuju sekolah yang berjarak sekitar 8 km dari rumah karena memang sekolahan saya ada dikampung sebelah, kampungnya neng Tia. Setiap kali saya sampai di tempat parkir sepeda halaman sekolah pandangan mata saya langsung memburu neng Tia, dan saat sosok itu tertangkap mata, hati saya langsung berdegup lebih cepat dari biasanya namun saya tidak punya keberanian untuk menyapa apalagi mendekatinya. Saya hanya bisa memandangnya dari jauh, saya suka saat melihat dia tertawa bercanda dengan teman2nya.

3 tahun saya memendam rasa itu dengan sangat berat hingga setelah kami usai melaksanakan ujian EBTA dan EBTANAS (evaluasi belajar tahap akhir dan evaluasi belajar tahap akhir nasional) yaitu fase yang akan menentukan lulus tidaknya saya dari sekolah menengah pertama, saya memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan saya, ini kali pertama saya sangat dekat dengan neng Tia, malam itu kebetulan ada acara perpisahan murid dan saya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan pada neng Tia karena saya fikir tidak lama lagi saya akan meninggalkan kampung dan tentunya juga meninggalkan neng Tia pujaan dan dambaan hati saya, saya ingin kami menjalin komitmen hingga saya menjadi seorang mantri (perawat kesehatan) dan kemudian menikah dengannya. Setelah acara perpisahan sampai pada sesion istirahat (makan-makan) saya pun meminta seorang teman untuk memanggil neng Tia agar menemui saya di pintu ruang guru dan disana saya sudah menunggu dengan perasaan gelisah, gugup, hingga tak terasa keringat dingin mulai membasahi kening, tak lama kemudian neng Tia datang membawa senyum yg membuat saya semakin tdk bisa berkata-kata, neng Tia yg terkenal pintar di kelas ini mengajak saya duduk tepat di ujung koridor sekolah, sepertinya ia tau apa yg akan saya bicarakan karena tempat yg ia pilih untuk kami duduk berdua lumayan mendukung, tidak gelap tidak juga terang dan tidak terlalu ramai. Disanalah dan saat itulah moment yg tidak bisa saya lupakan sampai sekarang, seorang anak kampung bernama trasmianto tidak bisa berkata-kata, lidah saya benar2 terasa kaku bahkan saya sempat minta izin ke belakang pada neng Tia untuk buang air kecil karena nerveous, bagi saya ini terasa lebih berat dari ujian EBTA/EBTANAS, apalagi saat neng Tia meraih tangan saya dan meminta saya mengungkapkan perasaan, perasaan saya semakin tidak karuan hingga akhirnya neng Tia bertanya “kamu suka sama saya ?” saya mengangguk dengan penuh semangat dan Neng Tia pun menyampaikan kata terimakasihnya karena saya sudah menyukainya namun kata-kata selanjutnya membuat saya lunglai dan hanya bisa tertunduk lesu karena neng Tia menyampaikan permintaan maaf dan tidak memperbolehkan saya memiliki rasa yg lebih dari sekedar suka, dia tidak ingin menjalin hubungan cinta dengan saya karena alasan akan melanjutkan sekolah ke jogjakarta dia ingin sekolah setinggi mungkin agar bisa membuktikan bahwa perempuan kampung bsia sekolah tinggi…
saat itulah saya benar-benar seperti tidak bertulang, bahkan untuk berdiripun saya tidak yakin kaki saya mampu menyangga badan, dalam kesedihan yang dalam saya hanya bisa duduk dian dan meminta neng Tia segera pulang karena malam sudah semakin larut.

setelah neng Tia beranjak pergi dari tempat duduknya tak terasa ada air yang mengalir di pipi saya, air mata cinta anak SMP yang pertama dan saya harap juga yang terakhir.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Jalan Panjang (base on true story) Part I”

RSS Feed for Blog Pejuang Comments RSS Feed

Bagus…crtnya menyentuh…dan sangat Real…but yg jd pertanyaan saya…setelah Neng Tia Neng siapa lg and kr2 ad brp neng lg stlhnya dan apakah yg skrg neng terakhr atokah msh ada neng yg lain…..??? ^_^ haha….prikitiw

______________________
Trasmianto, said:

hehehe..ceritanya masih panjang tidak menutup kemungkinan akan anda neng aya, neng indah atau mungkin juga neng bohay..wkwkwkwk.. prikitiw jua

sama-sama perantau, silahturahmi … biar panjang umur

___________
Trasmianto, said :

thanks dah mampir lagi, tadi saya mampir ke tempat sampean tapi gak ada orangnya heheheee….salam blogger yauw


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: