Jalan panjang (base on true strory) part III

Posted on 17 Desember 2009. Filed under: Hiburan | Tag:, , , , , , |

Jika pada tulisan sebelumnya saya bercerita tentang awal dimulainya jejak perantauan saya di kota palangkaraya maka pada tulisan ini saya coba menceritakan bagaimana upaya survival saya untuk mewujudkan mimpi kecil meraih pendidikan yang layak. Namun demikian jika anda belum sempat menyimak perjalanan saya sebelumnya, silahkan klik disini untuk membacanya.

Kerinduan saya pada orang tua akhirnya terobati dengan datangnya abah ke kota palangkaraya untuk menemani saya mengikuti test penerimaan siswa baru di sekolah perawat kesehatan, namun betapa terkejutnya saya dan abah saat mengetahui jumlah pendaftar yang membludak bahkan nomor urut test saya saat itu adalah 371, itu artinya jika saya berada pada urutan pendaftar terakhir maka ada 370 pendaftar yg mengikuti test penerimaan siswa baru, faktanya masih ada pendaftar yg mengantongi nomor test diatas angka 400 sedangkan jumlah siswa yang akan diterima oleh pihak sekolah adalah 40 orang. Terlihat jelas raut pesimis di wajah abah bahkan pak anwar menyarankan agar saya mulai memikirkan pilihan lain selain sekolah di sekolah perawat kesehatan (SPK), sebagai siswa alumni SMP kampung yang dinilai sebelah mata saya merasa tertantang untuk menunjukan bahwa saya juga memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan siswa-siswa lulusan kota.

Tidak ada persiapan ekstra untuk menghadapi test itu, saya hanya berdoa dan memperkuat keyakinan Bahwa saya mampu mengerjakan semua soal-soal dengan baik.

Hari pelaksanaan test dimulai, selepas sholat subuh saya panjatkan doa pendek yang sampai hari ini masih saya ingat dan selalu saya gunakan setiap kali menghadapi saat-saat menegangkan untuk menentukan hal penting dalam hidup saya,isi doanya begini “ya tuhanku, jika hari ini adalah awal untuk sesuatu yg baik menurutmu maka mudahkanlah, namun jika hari ini adalah awal untuk sesuatu yang tidak baik menurutmu maka berilah aku sedikit saja sifat sabarmu dan jauhkanlah hatiku dari sedih yang berkepanjangan” pagi itu saya berangkat diantar abah menggunakan angkutan kota, sebelum saya masuk ruang test abah hanya berpesan agar saya mengerjakan soal tanpa beban “lulus atau tidak lulus bagi abah tidak penting yang terpenting adalah keseriusan kamu mengerjakan soal-soal test” begitulah abah menyampaikan pesannya dengan penuh wibawa.

1 minggu setelah test saya sudah berbaur ditengah-tengah kerumunan para pendaftar yang melihat pengumuman, berdesak-desakan bahkan tidak sedikit yang saling dorong, dengan susah payah akhirnya saya sampai tepat di depan papan pengumuman sehingga saya bisa melihat dengan jelas angka 371 bercokol di urutan ketiga dalam daftar siswa lulus test penerimaan siswa baru, namun saya masih belum yakin itu nomor test saya, pandangan mata saya pun saya arahkan ke kolom nama yang ada di ujung kanan tabel pengumuman dan ternyata nama saya dengan jelas tertulis disana. SAYA LULUS !

Dengan penuh semangat saya sampaikan kabar baik ini pada abah yang sedari tadi menunggu tidak jauh dari kerumunan para pendaftar, awalnya abah tidak percaya hingga saya memutuskan untuk melihat sekali lagi bersama abah. Kebahagiaan dan kebanggaan abahpadaku tak dapat ia sembunyikan lagi tanpa banyak bicara abah langsung mengajakku kepasar membeli sepatu dan baju baru, hari itu abah memanjakanku di sebuah rumah makan kami makan sepuasnya. Sampai dirumah pak anwar aku langsung menyampaikan kabar gembira ini padanya dan hari itu semua larut dalam keceriaan dan kebanggaan padaku, ke esokan harinya selepas sholat maghrib saya mengajak abah melihat-lihat sekolah yang tidak lama lagi akan menjadi sekolah saya, tujuan nya adalah melihat perkembangan informasi dan memang hari itu ada pengumuman baru yang mengharuskan setiap calon siswa mengikuti test kesehatan, bagi saya ini adalah hal yang mudah karena tidak perlu berfikir lagi dan sayapun yakin tidak ada penyakit serius apalagi narkoba dalam tubuh saya jadi tidak ada lagi ketegangan untuk menghadapi test ini.

Saat saya asyik membaca-baca pengumuman tanpa sengaja saya bertemu perawat perempuan yang pernah saya lihat di rumah sakit dulu, kami saling menyapa dan melanjutkan sapaan pada perkenalan, namanya rya, kulitnya putih bersih wajahnya tampak ramah dengan jilbab yang menutup seluruh rambut. Malam itu tidak banyak waktu untuk berbicara dengannya karena saya dan abah harus segera pulang sebelum tidak ada lagi angkot yang melintas di jalan depan sekolah.
Beberapa hari kemudian test kesehatan pun dimulai dan lagi-lagi saya bertemu dengan rya, kali ini saya lebih fokus pada test kesehatan sehingga tidak banyak yang kami bicarakan. Sesaat setelah saya masuk ruangan test saya lihat dia ngobrol dengan abah, test demi test saya lalui hingga sampai pada tahap test warna, malang bagi saya ternyata saya tidak mampu melihat angka2 yang terdapat dalam titik-titik warna dan saya pun di nyatakan buta warna partial atau buta pada warna-warna kombinasi seperti ungu, violet, jingga, abu-abu, coklat dll ini artinya saya bukan penderita buta warna total karena saya masih bisa membedakan warna2 tertentu hingga akhirnya saya disarankan untuk test ulang di dokter spesialis mata Dr.Nuryatun, karena saya tdak tau harus mencari dokter itu kemana akhirnya rya lah yang membantu saya dan abah mencari alamatnya hingga kami harus menemuinya di rumah sakit umum, hari itu rya benar2 menjadi dewi penolong bagi saya walaupun akhirnya tetap saja saya dinyatakan tidak layak menjadi siswa di sekolah itu. Sedih, shock, stress, kecewa smua menjadi satu dalam benak saya. Terlebih lagi saat saya melihat gurat kekecewaan di wajah abah, saya tau ia berusaha menyembunyikan gurat kekecawaan itu namun tetap saja naluri seorang anak tidak bisa di bohongi. Pada saat-saat seperti itu rya seolah menjadi penghibur saya, entah darimana awalnya yang jelas saya merasa nyaman dengannya mungkin ini yang dimaksud penyair sapari damono dalam penggalan syairnya yang berjudul “aku ingin”

Aku ingin mencintaimu dg sederhana seperti kata-kata yg tak sempat terucapkan oleh api kepada kayu yang menjadikannya abu, Aku ingin mencintaimu dg sederhana seperti isyarat yg tak sempat Dikatakan oleh awan kepada hujan yang membuatnya tiada

mungkin saat itu saya telah mencintai rya dengan sederhana seperti diungkapkan sapari damono, jujur Sempat terlintas dibenak saya untuk ikut pulang kampung dan sekolah SMA disana namun satu-satunya yang membuat saya memutuskan untuk tetap tinggal dan menuntut ilmu di palangkaraya adalah rya meskipun ia tidak pernah sepatah katapun meminta saya utk tetap di palangkaraya namun saya yakin rya akan menjadi bagian dalam perjalanan panjang saya. entah apa yg membuat saya begitu yakin padanya, mungkin juga karena ini pertama kalinya saya merasakan perhatian dari seorang perempuan. (bersambung)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Jalan panjang (base on true strory) part III”

RSS Feed for Blog Pejuang Comments RSS Feed


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: